Semua artikel oleh wadmin

KAJIAN TAFSIR TEMATIK MAKNA HIBAH DALAM AL QUR’AN OLEH Dr.KH. M SYAIFUDIN, MA

Dr.KH.Syaifudin,MA

Dr.KH. Syaifudin, dalam kajian tafsir tematiknya beliau menjelaskan bahwa Hibah artinya memberikan, Hibah berbeda dengan shodakoh berbeda pula dengan hadian, kalo shodaqoh mempunyai arti sesuatu yang diberikan demi mengharapkan pahala dari Allah , kalo hadiah adalah pemberian dalam rangka untuk menyambung tali asih.

Beliau mendefinisikan dalam kajiannya bahwa Hibah berarti pemberian yang dilakukan secara sukarela dalam mendekatkan diri kepada Allah SWT. Tanpa mengharapkan balasan apapun miliknya kepada orang lain. Sehingga hibah itu sifatnya adalah umum, netral, dan bisa dikatakn tanpa pamrih.

Kita akan melihat bagaimana al quran berbicara tentang hibah atau tepatnya adalah dalam kontek apa al qur’an menggunakan kata hibah dari tasrifan-nya, paling tidak ada 19 tempat dimana al quran berbicara tentang hibah diantara Ali Imran:8, Ali Imron:38, Al An’am:84, Ibrahim:39, shad:30,35,43 Maryam:(19,49,50,53), Al Anbiya’:72,90), Al Furqon:74, As Syuaro’:21,49,83, Al Ankabut:27, Al Ahzab:50, As shafaat:100, adalah .( Tutur beliau Dr. KH Syaifudin dalam kajian tafsirnya ).

Penggunakan kata hibah dari fasinya dengan tidak memasukkan kata al wahab, tapi hibah dalam artian suatu perkerjaan. Dr. KH. Syaifudin dalam kajian tafsir tematiknya menjelaskan surat ali imron ayat 8

رَبَّنَا لَا تُزِغْ قُلُوْبَنَا بَعْدَ اِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَّدُنْكَ رَحْمَةً ۚاِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ

Artinya: “(mereka berdoa), “ya Tuhan kami, janganlah engkau condongkan hati kami kepada kesesatan setelah engkau berikan petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu, sesungguhnya Engkau Maha Pemberi.”

Beliau menafsirkan ayat tersebut bahwa doa yang dilakukan oleh golongan war raasikhuuna fil ‘ilmi, Ulul Albab, orang yang beriman yang mempunyai nalar yang cerdas, yang mempunyai wirid dan dzikir yang kuat, yang mempunyai ilmu pengetahuan keimanan yang menancap di dalam hati sanubari mereka, mereka berdoa Laa tuzigh quluubana Wahai tuhan kami jangan jadikan hati kami berpaling. Jangan sampai kenikmatan yang sudah menancap di dalam hati itu menjadi hilang atau berpaling”.

Ini menunjukkan bahwa Ketika dia beriman dan merasakan manisnya iman itu ibaratnya walaupun dipukul, dihajar, dan dipaksa untuk melepaskan nikmanya iman pasti mereka tidak mau, seperti contoh sahabat nabi yaitu Bilal bin rabah di dalam sejarah islam miskipun beliau dicambuk ditindik dengan batu besar supaya murtad keluar dari islam tapi beliau tetap tidak mau untuk melepaskan keimannya.

Beliau KH Syaifudin menjelaskan Lafadz “Ba’da idzhadaitanaa pada ayat ini membuktikan bahwa setiap orang telah mendapatkan petunjuk bisa saja tergelincir atau berpaling kembali dalam lubang keburukan. Konsistensi dalam meneguhkan hati pun tergoyahkan kembali karena beberapa penyebab kecil hingga besar. Seperti halnya dikarenakan oleh kesalahan atau dosa yang dilakukan. Maka dari itu, seorang hamba yang totalitas dalam beribadah kepada-Nya akan memohon dengan sungguh-sungguh agar diberi keteguhan atau ketetapan hati

Kemudian,beliau juga menafsirkan lafadz Wahablanaa min ladun karahmah dimaknai sebagai permohonan yang berisi pemberian yang diberikan secara spontan dan cepat (ilmu) serta kasih sayang yang paripurna dari Allah SWT. Lalu, Innaka antal wahhaab dimaknai sebagai kebesaran Allah yang memiliki sifat “al-Wahab” berarti Maha Pemberi. Memberikan banyak karunia kepada hamba-Nya atas dasar kasih sayang dengan tanpa pamrih

Maka dari itu, ar raasikhuuna fil ‘ilmi ini memohon kepada Allah SWT agar setelah menerima hidayah atau petunjuk, tidak tergelincir dalam hal-hal yang salah atau dosa. Lalu, tidak menjauh dari hidayah atau petunjuk tersebut. Kemudian, memohon dikaruniakan kasih sayang dari Allah SWT Yang Maha Pemberi. Permohonan yang diajukan kepada-Nya adalah permohonan yang penuh dengan nilai kekhusyuan, sehingga Allah SWT tidak segan memberikan rahmat-Nya kepada seorang hamba karena kecintaan-Nya

Apa yang diminta oleh orang yang “ar raasikhuuna fil ‘ilmi, dalam doanya yang pertama yaitu memohon supaya manisnya iman itu tidak lepas dari hati mereka. Permohonan yang kedua adalah memohon supaya diberikan anugrah dan rahmat dari Allah SWT, Rahmat itu adalah ibarat pengunci supaya keimanann itu tidak lari kemana-mana dan keyakinan dan kepercayaan itu supaya kokoh bersemayam di hati “ar raasikhuuna fil ‘ilmi”  (tutur beliau dalam penjelasan kajian tafsir tematiknya)

Dalam Al-Qur’an, penggunaan kata hibah digunakan dalam konteks pemberian anugerah Allah SWT kepada utusan-utusan-Nya, doa-doa yang dipanjatkan oleh hamba-hambaNya, terutama para nabi, dan menjelaskan sifat Allah SWT Yang Maha Memberi Karunia.

Penggunaan Kata wahab yang ada di dalam Al Qur’an, kenapa demikian, karena bahwa namanya hibah itu pemberian yang tanpa pamrih, tanpa imbalan apapun, tidak ada unsur transtaksional, dan allah tidak membebani apapun kepada peminta. Jadi supaya rahmatnya itu dicurahkan kepada “ar raasikhuuna fil ‘ilmi, sebab orang yang memohon pada Allah itu bermacam-macam dalam permohonannya, diantaranya Allahumma inna nas’aluka, ada yang allahumma a’tini, Allahumarzuqna fahman nabyyin dan lain sebagainhya, tapi ketika sihgot atau lafat permohonan itu adalah dengan hab, ini menunjukann bahwa si peminta yang berdoa meminta rahmat yang sebanyak-banyaknya yang mana engaku tidak tanpa pamrih. (tutur beliau dalam kajian tafsir tematiknya)

Jadi yang memberi hibah itu adalah hanya Allah SWT sedangkan orang yang diberi hibah atau yang mendapatkan hibah adalah Al Mauhub (diantaranya adalah para nabi) sedangkan barang yang dihibahkan adalah barang-barang yang kasat mata yaitu anak , barang yang tidak kasat mata yaitu rahmat. [!]

 

 

 

 

 

 

 

 

Faiz

KAJIAN TAFSIR TEMATIK KELAHIRAN ANAK DI DALAM AL QUR’AN OLEH Dr.KH SYAIFUDIN, MA

Dr.KH. Syaifudin, dalam kajian tafsir tematiknya belaiu menuturkan bahwa Anak yang berada di alam Rahim kemudian mendohirkan diri ke alam dunia yang mana di alam dunia dia akan menjalani kehidupan yang berbeda dari alam Rahim. Janin yang ada di dalam kandungan itu mereka hidup di alam lain, janin tidak mengalami waktu sebagaimana waktu kita yang berada di alam dunia ini, yang dibatasi oleh matahari dan bulan, tapi janin menjalani hidup dengan kehidupan mereka sendiri. Jadi jangan disamakan antara anak dalam kandungan dan anak yang sudah lahir dalam kehidupannya.

Kenapa orang terdahulu itu menyebut anak yang baru lahir dinamakan Brojol atau lahir. Ternyata  pada dasarnya kita sebagai manusia itu sudah ada sejak beribu-ribu tahun atau berjuta-juta tahun yang lalu. Namun tidak dalam berbentuk makhluk yang berkuliit, makhluk yang bertulang, makhluk yang bisa berdiri tegak, dan makhluk yang berdaging, tetapi sejatinya sudah ada bahwa wujud kita adalah arwah (sepirit), dan ada yang mengatakan khususnya ahli mantik, Al Insan Hayawanu Natiq, bahwa manusia adalah hewan yang bisa berbicara, berfikir, dan berargumen. dan ada juga yang mengatakan manusia adalah Seprit Ingkarni yaitu jiwa atau ruh yang menjelma (mengejawantah) menjadi makhluk kasar (kasat mata). (Tutur tambahan beliua KH Syaifudin dalam kajian tafsirnya)

Kemudian belaiu KH Syaifudin juga menjelaskan dalam kajiannya, Ketika kita dari alam jiwa atau ruh menjadi alam yang berkulit dan berdaging, ternyata oleh alquran kita disebut sebagai Basyarun (kulit), karena yang membedakan kita sebagai manusia dan makhluk ciptaan Allah yang lain seperti hewan, kita adalah berkulit yang halus dan kelihatan jelas berbeda dengan hewan yeng memiliki kulit namun didominasi  bulu atau rambut.

Dr.KH.Syaifudin dalam penjelasan kajian tafsir tematiknya bahwa berbicara tentang kelahiran anak manusia itu adalah hal yang mempunyai resistensi yang tinggi, yang memunculkan perdebatan yang panjang tutur beliau KH Syaifudin. kalau diksi yang kita pakai adalah kelahiran mungkin aman-aman saja, tapi kalau kelahiran kita pakai dengan bahasa lain seperti hari natal (kelahiran yesus), dan ketika kita berbicara tentang kelahiran yesus atau dalam islam adalah Nabi Isa as, sebagaian umat nasrani dalam menentukan taggal dan hari juga ada perbedaaan, ada yang mengatakan yesus (nabi isa) lahir pada tgl 25 Desember sehinnga perayaan hari natal jatuh pada tanggal tersebut, begitu juga  ada warga mesir dari Kristen ortodok mereka merayakan hari natal pada tanggal 6 Januari). kemudian ada riset yang mengatakan bahwa yesus itu lahir bulan Agustus pada puncak musim panas dan oleh al quran itu ditandahi dengan matengnya buah kurma. sehingga dari perbedaan semuanya itu mengakibatkan terjadinya perselisihan atau perdebatan.

Tetapi berbedaan seputar kelahiran itu bukan hanya terjadi pada kelahiran nabi Isa saja, kelahiran Nabi Muhammad-pun yang oleh kita yang kita yakini bahwa beliau Nabi Muhammad lahir pada tgl 12 robiul awal, namun menurut ahli falaq, sesuai ilmu astronomi itu beliau lahir pada tanggal 9 robiul awal, bukan 12 robiul awal, ini hanyalah mengenai perbedaan kelahiran, yang rentan dengan terjadinya perselisihan atau perdebatan diantara ummat  manusia.

Jadi Kesimpulanya adalah masyarakat kita mengambil perhatian yang sangat serius tentang apa itu kelahiran. Bahkan Dalam alquran ada banyak tempat berbicara tentang kelahiran, ada 12 tempat dan semuanya itu menunjukkan keseriusan al quran dalam menjelaskan tentang kelahiran.

Bahwa kelahrian anak manusia itu bukan hal yang sederhana atau remeh, sebab kalau kita runtut sebuah sosok yang bersal dari sesuatu yang jijik, kemudian menjadi Sosok manusia yang bisa berfikir, bisa berbuat sesuatu, ini sesuatu hal yang luar biasa yang dimiliki sosok manusia.

Sehingga Pesan dari Al quran tentang kelahiran sepeti Nabi Isa, bahwa nabi Isa adalah manusia biasa bukan tuhan, karena dilahirkan dari seorang Ibu Maryam binti Imran yang juga bisa nangis, dan juga merasakan sakit saat melahirkan. Kemudian logika yang dipakai oleh al qur’an, kalau dianggap bahwa nabi Isa lahir tanpa ayah, itu adalah suatu kehebatan yang sangat luar biasa, tapi ada yang lebih hebat lagi yaitu nabi Adam as, yang lahir tanpa ayah dan ibu, dan semua itu adalah keajaiban dari Allah SWT.

Dr. KH. Syaifudin Menjelaskan dalam kajian tafsir tematiknya bahwa Penggunaan al quran terhadap lafadz yang mempunyai arti melahirkan diantaranya adalah

  1. kata Wadho’a, yang ada dalam alquran surat Ali Imron 36, kata wado’a dalam bahasa arab sendiri memiliki arti meletakkan.

Terjemahan surat ali imron ayat 36 yang artinya: Maka tatkala Istri Imron melahirkan anaknya (Maryam) , dia pun berkata ” ya Tuhanku sesunggunya aku melahirkannya seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkan itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menemani dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada engkau daripada syetan yang terkutuk“.

Syaifudin memberikan penjelasan dalam tafsir tematiknya dari surat ali imron ayat 36 tersebut, Karena dia istri imron sudah bernazdar bahwa kelak anak yang aku lahirkan aku persembahkan pada Allah supaya anak itu menjadi anak yang hanya fokus beribadah kepada allah SWT . Maka al quran dengan bahasa yang sangat indah, bahasa yang sangat jeli sehingga mengandung makna yang sangat jelas, mengandung makna yang sangat luas, Jadi hebatnya alquran di dalam menggunakan setiap diksi atau lafat, di dalamnya mngandung makna yang sangat detail, dalam, dan luas.

  1. Kata Walada, yang ada dalam alquran, kapan dan mengapa alquran menggunakan kata walada atau wulida itu untuk menunjukkan peran seorang ibu, bagaimana seorang ibi mengandung 9 bln 10 hari kemudian melahirkan anak, ini adalah dalam rangka supaya anak ingat darimana ia berasal, makanya anak disebut sebagai waladun, ortu disebut dengan walidun, atau anak disebut mauludun.

Bagaimana al quran dengan hanya satu kata itu di dalamnya mengandung makna yang sangat dalam , yang pertama bahwa seorang manusia sehebat apapun, dia adalah waladun atau mauludun, dilahirkan dalam keadaan lemah atau tidak berdaya. Dia harus sadar bahwa dia itu makhluk yang tidak berdaya jadi jangan takabur

Begitu juga dengan walid (Ibu), itu untuk menunjukkan suatu tanggung jawab, atas seorang yang melahirkan seorang anak, disinilah ada pesan ” wahai ibu kamu sudah diberi amanah, anugrah berupa anak, maka susuilah bayimu, supaya ingat punya anak, jadi kata walidat itu dalam rangka allah mengingatkan ortu bagaimana mereka dulu meminta pada Allah untuk memilki anak, ketika sudah diberi harus tanggung jawab.

Kemudian kata walid itu sendiri hanya dengan satu kata ibarat pedang bermata 2, yaitu mengingatkan anak sekaligus orang tua, saling mengingatkan tanggung jawab masing masing antara anak dan orang tua, maka alquran dengan jeli, bagaimana kapan menggunakan kata wulida , kapan menggunakan kata wado’a.

 

  1. Kata Al makho. Artinya rasa sakit akan melahirkan. (Ceritanya siti Maryam)

Ketika siti Maryam mengalami persalinan melahirkan Nabi Isa as.  Disini disebutkan bahwa menunjukkan kemanusiaan dari siti Maryam, seperti manusia biasa seperti yang lain, mengalami sakit yang berat saat melahirkan, wahai betapa baiknya aku mati sebelum ini, ini menunjukkan kekhawatiran dalam ibadah tidak mencapai rido dari Allah.

Sejarah mencatat siti Maryam itu setiap hari membersihkan tempat ibadah kemudian membaca tasbih, istighfar dll, beliau diberikan anak oleh Allah tanpa suami, suatu ujian dalam bentuk ibadah untuk siti Maryam. Beliau siti Maryam mendapat misi yang besar dalam bentuk ibadah supaya derajat beliau setara dengan Nabi, karena beliau seorang perempuan maka tidak bisa diangkat menjadi seorang Nabi atau Rosul oleh Allah.

  1. Kata Akhroja : yang memiliki arti keluar

Allah menggunakan kata Akhroja dalam rangka supaya bahwa yang namanya proses kelahiran itu jangan dianggap sebagai proses yang biasa saja, yang alami,  yang natural, tidak.! proses kelahiran itu pasti melibatkan Allah SWT, ini adalah pelajran bagi kita bahwa dalam masalah kelahiran kita harus mengahdirkan Allah SWT, supaya sianak lahir  di dunia itu adalah berkah rido dan rahmat dari Allah, tidak sekedar hanya di azdani dan di Komati, tapi semua proses itu harus menghadirkan Allah SWt

Jadi bagaimana alqur’an berbiacara tentang kelahiran anak, itu dengan bahasa yang simple, singkat dan detail serta konprehensip, sehingga kita bisa melihat diksi atau lafadz yang digunakan oleh Al Qur’an diantaranya lafadz Wado’a, Walada, al Makho, dan Akhroja itu mempunya makna yang berbeda sesuai dengan keadaan dimana ayat tersebut bercerita, dan tidak bisa ditukar oleh lafadz atau diksi yang lain tetapi alquran selalu memberi nilai yang terbaik oleh Allah SWT, supaya anak manusia yang lahir dimuka bumi itu tidak hanya sekedar lahir hidup tanpa arti atau tanpa tujuan, inilah kehebatan Al qur’an ..…[!]

KAJIAN TAFSIR TEMATIK KELAHIRAN ANAK DI DALAM AL QUR’AN OLEH Dr.KH SYAIFUDIN, MA


Dr.KH. Syaifudin, dalam kajian tafsir tematiknya belaiu menuturkan bahwa Anak yang berada di alam Rahim kemudian mendohirkan diri ke alam dunia yang mana di alam dunia dia akan menjalani kehidupan yang berbeda dari alam Rahim. Janin yang ada di dalam kandungan itu mereka hidup di alam lain, janin tidak mengalami waktu sebagaimana waktu kita yang berada di alam dunia ini, yang dibatasi oleh matahari dan bulan, tapi janin menjalani hidup dengan kehidupan mereka sendiri. Jadi jangan disamakan antara anak dalam kandungan dan anak yang sudah lahir dalam kehidupannya.

Kenapa orang terdahulu itu menyebut anak yang baru lahir dinamakan Brojol atau lahir. Ternyata pada dasarnya kita sebagai manusia itu sudah ada sejak beribu-ribu tahun atau berjuta-juta tahun yang lalu. Namun tidak dalam berbentuk makhluk yang berkuliit, makhluk yang bertulang, makhluk yang bisa berdiri tegak, dan makhluk yang berdaging, tetapi sejatinya sudah ada bahwa wujud kita adalah arwah (sepirit), dan ada yang mengatakan khususnya ahli mantik, Al Insan Hayawanu Natiq, bahwa manusia adalah hewan yang bisa berbicara, berfikir, dan berargumen. dan ada juga yang mengatakan manusia adalah Seprit Ingkarni yaitu jiwa atau ruh yang menjelma (mengejawantah) menjadi makhluk kasar (kasat mata). (Tutur tambahan beliua KH Syaifudin dalam kajian tafsirnya)

Kemudian belaiu KH Syaifudin juga menjelaskan dalam kajiannya, Ketika kita dari alam jiwa atau ruh menjadi alam yang berkulit dan berdaging, ternyata oleh alquran kita disebut sebagai Basyarun (kulit), karena yang membedakan kita sebagai manusia dan makhluk ciptaan Allah yang lain seperti hewan, kita adalah berkulit yang halus dan kelihatan jelas berbeda dengan hewan yeng memiliki kulit namun didominasi bulu atau rambut.

Dr.KH.Syaifudin dalam penjelasan kajian tafsir tematiknya bahwa berbicara tentang kelahiran anak manusia itu adalah hal yang mempunyai resistensi yang tinggi, yang memunculkan perdebatan yang panjang tutur beliau KH Syaifudin. kalau diksi yang kita pakai adalah kelahiran mungkin aman-aman saja, tapi kalau kelahiran kita pakai dengan bahasa lain seperti hari natal (kelahiran yesus), dan ketika kita berbicara tentang kelahiran yesus atau dalam islam adalah Nabi Isa as, sebagaian umat nasrani dalam menentukan taggal dan hari juga ada perbedaaan, ada yang mengatakan yesus (nabi isa) lahir pada tgl 25 Desember sehinnga perayaan hari natal jatuh pada tanggal tersebut, begitu juga ada warga mesir dari Kristen ortodok mereka merayakan hari natal pada tanggal 6 Januari). kemudian ada riset yang mengatakan bahwa yesus itu lahir bulan Agustus pada puncak musim panas dan oleh al quran itu ditandahi dengan matengnya buah kurma. sehingga dari perbedaan semuanya itu mengakibatkan terjadinya perselisihan atau perdebatan.

Tetapi berbedaan seputar kelahiran itu bukan hanya terjadi pada kelahiran nabi Isa saja, kelahiran Nabi Muhammad-pun yang oleh kita yang kita yakini bahwa beliau Nabi Muhammad lahir pada tgl 12 robiul awal, namun menurut ahli falaq, sesuai ilmu astronomi itu beliau lahir pada tanggal 9 robiul awal, bukan 12 robiul awal, ini hanyalah mengenai perbedaan kelahiran, yang rentan dengan terjadinya perselisihan atau perdebatan diantara ummat manusia.

Jadi Kesimpulanya adalah masyarakat kita mengambil perhatian yang sangat serius tentang apa itu kelahiran. Bahkan Dalam alquran ada banyak tempat berbicara tentang kelahiran, ada 12 tempat dan semuanya itu menunjukkan keseriusan al quran dalam menjelaskan tentang kelahiran.

Bahwa kelahrian anak manusia itu bukan hal yang sederhana atau remeh, sebab kalau kita runtut sebuah sosok yang bersal dari sesuatu yang jijik, kemudian menjadi Sosok manusia yang bisa berfikir, bisa berbuat sesuatu, ini sesuatu hal yang luar biasa yang dimiliki sosok manusia.

Sehingga Pesan dari Al quran tentang kelahiran sepeti Nabi Isa, bahwa nabi Isa adalah manusia biasa bukan tuhan, karena dilahirkan dari seorang Ibu Maryam binti Imran yang juga bisa nangis, dan juga merasakan sakit saat melahirkan. Kemudian logika yang dipakai oleh al qur’an, kalau dianggap bahwa nabi Isa lahir tanpa ayah, itu adalah suatu kehebatan yang sangat luar biasa, tapi ada yang lebih hebat lagi yaitu nabi Adam as, yang lahir tanpa ayah dan ibu, dan semua itu adalah keajaiban dari Allah SWT.

Dr. KH. Syaifudin Menjelaskan dalam kajian tafsir tematiknya bahwa Penggunaan al quran terhadap lafadz yang mempunyai arti melahirkan diantaranya adalah
1. kata Wadho’a, yang ada dalam alquran surat Ali Imron 36, kata wado’a dalam bahasa arab sendiri memiliki arti meletakkan.
Terjemahan surat ali imron ayat 36 yang artinya: Maka tatkala Istri Imron melahirkan anaknya (Maryam) , dia pun berkata ” ya Tuhanku sesunggunya aku melahirkannya seorang anak perempuan, dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkan itu, dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menemani dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada engkau daripada syetan yang terkutuk”.

KH. Syaifudin memberikan penjelasan dalam tafsir tematiknya dari surat ali imron ayat 36 tersebut, Karena dia istri imron sudah bernazdar bahwa kelak anak yang aku lahirkan aku persembahkan pada Allah supaya anak itu menjadi anak yang hanya fokus beribadah kepada allah SWT . Maka al quran dengan bahasa yang sangat indah, bahasa yang sangat jeli sehingga mengandung makna yang sangat jelas, mengandung makna yang sangat luas, Jadi hebatnya alquran di dalam menggunakan setiap diksi atau lafat, di dalamnya mngandung makna yang sangat detail, dalam, dan luas.

2. Kata Walada, yang ada dalam alquran, kapan dan mengapa alquran menggunakan kata walada atau wulida itu untuk menunjukkan peran seorang ibu, bagaimana seorang ibi mengandung 9 bln 10 hari kemudian melahirkan anak, ini adalah dalam rangka supaya anak ingat darimana ia berasal, makanya anak disebut sebagai waladun, ortu disebut dengan walidun, atau anak disebut mauludun.

Bagaimana al quran dengan hanya satu kata itu di dalamnya mengandung makna yang sangat dalam , yang pertama bahwa seorang manusia sehebat apapun, dia adalah waladun atau mauludun, dilahirkan dalam keadaan lemah atau tidak berdaya. Dia harus sadar bahwa dia itu makhluk yang tidak berdaya jadi jangan takabur

Begitu juga dengan walid (Ibu), itu untuk menunjukkan suatu tanggung jawab, atas seorang yang melahirkan seorang anak, disinilah ada pesan ” wahai ibu kamu sudah diberi amanah, anugrah berupa anak, maka susuilah bayimu, supaya ingat punya anak, jadi kata walidat itu dalam rangka allah mengingatkan ortu bagaimana mereka dulu meminta pada Allah untuk memilki anak, ketika sudah diberi harus tanggung jawab.

Kemudian kata walid itu sendiri hanya dengan satu kata ibarat pedang bermata 2, yaitu mengingatkan anak sekaligus orang tua, saling mengingatkan tanggung jawab masing masing antara anak dan orang tua, maka alquran dengan jeli, bagaimana kapan menggunakan kata wulida , kapan menggunakan kata wado’a.

3. Kata Al makho. Artinya rasa sakit akan melahirkan. (Ceritanya siti Maryam)
Ketika siti Maryam mengalami persalinan melahirkan Nabi Isa as. Disini disebutkan bahwa menunjukkan kemanusiaan dari siti Maryam, seperti manusia biasa seperti yang lain, mengalami sakit yang berat saat melahirkan, wahai betapa baiknya aku mati sebelum ini, ini menunjukkan kekhawatiran dalam ibadah tidak mencapai rido dari Allah.

Sejarah mencatat siti Maryam itu setiap hari membersihkan tempat ibadah kemudian membaca tasbih, istighfar dll, beliau diberikan anak oleh Allah tanpa suami, suatu ujian dalam bentuk ibadah untuk siti Maryam. Beliau siti Maryam mendapat misi yang besar dalam bentuk ibadah supaya derajat beliau setara dengan Nabi, karena beliau seorang perempuan maka tidak bisa diangkat menjadi seorang Nabi atau Rosul oleh Allah.

4. Kata Akhroja : yang memiliki arti keluar
Allah menggunakan kata Akhroja dalam rangka supaya bahwa yang namanya proses kelahiran itu jangan dianggap sebagai proses yang biasa saja, yang alami, yang natural, tidak.! proses kelahiran itu pasti melibatkan Allah SWT, ini adalah pelajran bagi kita bahwa dalam masalah kelahiran kita harus mengahdirkan Allah SWT, supaya sianak lahir di dunia itu adalah berkah rido dan rahmat dari Allah, tidak sekedar hanya di azdani dan di Komati, tapi semua proses itu harus menghadirkan Allah SWt

Jadi bagaimana alqur’an berbiacara tentang kelahiran anak, itu dengan bahasa yang simple, singkat dan detail serta konprehensip, sehingga kita bisa melihat diksi atau lafadz yang digunakan oleh Al Qur’an diantaranya lafadz Wado’a, Walada, al Makho, dan Akhroja itu mempunya makna yang berbeda sesuai dengan keadaan dimana ayat tersebut bercerita, dan tidak bisa ditukar oleh lafadz atau diksi yang lain tetapi alquran selalu memberi nilai yang terbaik oleh Allah SWT, supaya anak manusia yang lahir dimuka bumi itu tidak hanya sekedar lahir hidup tanpa arti atau tanpa tujuan, inilah kehebatan Al qur’an ..…[!]



















Konsep melahirkan didalam alquranYME.
Kenapa alquran memilih dikssi la taklamu na sai’a.
Bayi itu tidak bisa lataklamu tapi bisa merasa.
Akan tetapi ada hal yang bisa dilakukan oleh bayi, yaitu lapar dan menangis, merasa lapar , kemudian menangis. Lha perbuatan bayi menangis itu bukan ilmu, tapi itu adalah insting
Bayi belum punya ilmu, kecuali nabi isa.
Kemudian kelahiran yang disampaikan oleh alqur’an. Bahwa konsep kelahiran itu melibatkan oleh Allah SWT,
Kelahiran seorng bayi di alqur’an adalah
2. bayi yang dilahirkan, kalo mencotoh ibunda. Itu harus didedikasikan harus disiapkan. Harus ditarjet akan menjadi apa? tujuan apa anak dilahirkan ?.
3. bahwa dengan kelahiran itu terjadi suatu ikatan keluarga antara anak dan orang tua yang tidak bisa dipisahkan dan akan menjadi tatan sejarah yang panjang.




KAJIAN TAFSIR TEMATIK KELAHIRAN ANAK DI DALAM AL QUR’AN OLEH Dr.KH SYAIFUDIN, MA

MEMELIHARA PERSAUDARAAN PRESPEKTIF AL QUR’AN DAN AL HADIS Oleh Prof.Dr.KH.Sayyid Aqil Husin Al Munawwar, MA. (Mentri Agama RI Periode 2001 – 2004)

Menteri Agama RI Periode 2001 – 2004, Prof. Dr. KH. Said Agil Husin Al Munawar, MA, saat menyampaikan khutbah Jumat di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT, Jumat (5/1/2024) .

Prof.Dr.KH.Sayyid Aqil Husin dalm khutbahnya mengusung sebuah tema “Memelihara Persaudaraan Prespektif Al Qur’an Dan Al Hadis, Beliau menyampaikan makna persaudaraan dalam bahasa arab disebutkan ukhuah, belia juga menyampaikan tentang memelihara persaudaraan adalah inti dari makna Ukhuah artinya adalah saling memperhatikan , mereka yang  merasa bersaudara hendaknya satu sama lain saling memperhatikan begitu pentingnya persaudaraan dalam alqur’an  yang terambil dari kata Akhun, yang memiliki arti saudara, sahabat. Ujar beliau dalam khutbahnya

Dalam khutbahnya, beliua juga menyampaikan bahwa di dalam alqur’an disebut sebanyak 52 kali  dan 22 kali dalam bentuk plural kata ikhwan atau ikhwah yang semua memberi makna persaudaraan.

Prof.Dr.KH.Sayyid Aqil Husin juga dalam khutbahnya memberikan penjelasan tentang sejarah singkat hijrahnya Nabi Muhammad dari mekah ke madian bukan untuk membangun infrastruktur melainkan membentuk persatuan dan kesatuan persaudaraan. Mepersatukan 2 kekuatan yang dimiliki yaitu antara kaum muhajirin (pendatang) penduduk mekah dan kaum ansor (penetap) penduduk madinah. Tugas utama beliau dalam berhijrah adalah mempersaudarakan kaum muhajirin dan kaum ansor.

Dalam khutbahnya beliau juga membacakan surat Al hujrat ayat 10 beliau memberikan penjelasan ayat tersebut bahwa sesungguhnya orang yang mukmin itu adalah bersaudara, maka berdamailah  diantara saudara saudara sekandung, sesusu, semukmin dan se iman agar semua mendapatkan rahmat dari Allah SAW

Prof.Dr.KH.Sayyid Aqil Husin menyampaikan dalam khutbahnya ada 6 perkara jika dipelihara dengan baik  maka perkara tersebut akan membuat kita menjadi orang yang beriman, dan beliau sebutkan dalam sebuah ayat yang artinya Allah berfirman “Sesungguhnya orang yang beriman itu adalah bersaudara maka payung persaudaraan kita adalah keimaanan kita harus jaga dengan persaudaraan

6 perkara tersebut terdapat di dalam surat Al Hujrat Ayat 11 dan 12 (tambah beliau dalam khutbahnya), dan  menjelaskan Jauhkan dari 6 perka,  yang apabila 6 perkara itu dijaga dengan baik

3 diantaranya terdapat dalam surat Al hujrat ayat 11 yaitu

  1. Janganlah suatu kaum mengolok-ngolok kaum yang lain, Karena boleh jadi mereka yang diperolok-olok lebih baik daripada mereka yang mengolok-ngolok
  2. Janganlah kamu Saling mencela satu sama lain
  3. Jangan memanggil dengan gelar –gelar yang buruk yang tidak disukai oleh yang dipanggil

Sedangkan 3 yang lain terdapat dalam surat al hujrat ayat 12

  1. Hindari prasangka yang suudzon, karena prasangka itu lebih keji
  2. Dilarang mengorek-ngorek kekurangan saudara kita, tutupi segala kekurangan saudara-sudarany
  3. Dilarang saling mengumpat, menggunjing, menyebut saudara dengan segala sebutan dengan tidak baik

Kemudian beliau berpesan di sela sela khutbahnya agar kita selalu menjaga dari 6 perkara yang sudah disebutkan itu. Beliau juga memberikan penjelasan tentang Gambaran Ukhuah Islamiyah yang sejati adalah dalam islam yaitu Dengan ukhuah bagaikan satu bangunan satu sama yang lain saling memperkuat dan memperkokoh.

Prof.Dr.KH.Sayyid Aqil Husin dalam khutbahnya juga menjelaskan bahwa ada 6 perkara yang harus kita tegakkan dalam persaudaraan diantaranya adalah

  1. Kalo berjumpa ucapkan salam
  2. Kalo saudara mau bersin dan dia mengucapkan Alhamdulillah, maka kita jawab yarhamukullah (saling mendoakan satu sama yang lain)
  3. Memenuhi undangan
  4. Kalo dia minta nasihat maka sampaikan saran itu
  5. Kalo dia sedang sakit maka tengok dia
  6. Apabila ia meninggal dunia maka anrtakan lah jenahzahnya sampai ke tempat peristiratan terakhirnya (pemakamannya.)

Di khutbah terakhir dari topic yang diuraikan oleh beliau Prof.Dr.KH.sayyid Aqil Husin Al Munawwar, MA. (Mentri Agama RI  Periode 2001 – 2004), beliau memberikan  stetmen yaitu “Dengan menjaga persaudaraan kita akan menjadi kuat, persautan kita menjadi kuat, tapi dengan menghancurkan persaudaraan kita bearti kita lemah, Sekecil apapun perbuatan itu yakinlah apabila itu perbuatan yang baik, maka Allah sudah siapkan ganjaran yang berlipat ganda,  sebaliknya sekecil apapun perbuatan yang kita lakukan apabila itu adalah pelanggaran terhadap ajaran Allah dan Rosulnya, Maka yakinlah pula Allah sudah sipakan azab dan siksaan yang pedih”.

Kemudian Ketika pelaksanaan sholat jum’at selesai, beliua membacakan Tilawah Al quran di ruang tempat imam Sholat dan dikelilingi oleh para pengurus MAJT serta para jama’ah sholat jum’at untuk mendengarkan dan menyaksikan sebuah lantunan ayat ayat Al Qur’an yang sangat merdu ketika dibacakan oleh Prof.Dr.KH.Sayyid Aqil Husin.

TALAK QOBLA DUKHUL

 

Talak Qobla Dukhul

(Kitab Kifayatul Akhyar)

oleh : Prof Dr KH Abdul Hadi, MA

Talak Qobla Dukhul adalah perceraian yang terjadi antara suami dan istri yang terjadi dalam keadaan belum dukhul atau dalam keadaan suami dan istri belum berhubungan badan selayaknya suami dan istri pada umumnya. Imam Syafi’i tidak mewajibkan suami untuk memberi nafkah pada istri yang diceraikan dalam keadaan Qobla Dukhul, namun istri yang diceraikan tersebut hanya berhak atas mut’ah. Mut’ah yaitu pemberian oleh seorang suami yang menceraikan istri sesuai kadar kemampuannya untuk menghibur istri agar tidak berlarut-larut dalam kesedihan setelah terjadinya percceraian.

Jika mahar telah ditentukan saat akad nikah namun belum diberikan seluruhnya kepada istri maka kewajiban suami untuk membayar mahar hanya terbatas pada separuh dari jumlah mahar yang ditentukan pada saat akad nikah. Hilangnya kewajiban suami untuk memberikan nafkah pada istri selaras dengan tidak diwajibkannya masa iddah pada perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan qobla dukhul. Iddah tidak diwajibkan atas perempuan yang diceraikan oleh suaminya dalam keadaan qobla dukhul baik ia sudah khalwat maupun belum. Karena menurut Imam Syafi’i di dalam kitab kifayatul akhyar bahwa khalwat adalah perbuatan yang tidak mewajibkan iddah selama ia tidak sampai pada kategori jima’(berhubungan suami dan istri). Ketentuan-ketentuan diatas sebagaimana terdapat dalam firman Allah surat Al Ahzab ayat 49

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dipahami bahwa ketika seorang suami menceraikan isterinya yang belum pernah digaulinya, maka mantan isteri tersebut tidak mempunyai masa ‘iddah, dan tentu saja mantan suaminya tidak memiliki kewajiban apapun yang berkenaan dengan ‘iddah tersebut, yaitu kewajiban memberikan nafkah ‘iddah untuk mantan isterinya tersebut